Belajar akhlak dari generasi salaf, generasi terbaik yang dimilki ummat ini

Total Tayangan Laman

Sabtu, 12 Maret 2011

Muadzah binti Abdullah

"Istri Ahli Ibadah Yang Rajin Ibadah"

“Wahai jiwa, tidur di hadapanmu, seandainya engkau lakukan, maka akan panjang tersungkurmu di alam kubur dalam kesengsaraan. Atau (engkau inginkan) kebahagiaan.”……….(Muadzah binti Abdullah Rah.a)


Muadzah binti Abdullah al-Adawiyyah al-Bashriyyah Ummu ash-Shahba’ termasuk wanita tabi’in yang tumbuh dekat dengan sumber-sumber ilmu para shahabat. Dengan mudah dia mereguk ilmu mereka yang diambil dari Rasulullah SAW.Ia belajar dari madrasah Ummul Mukminin Aisyah R.a, Ali bin Abi Thalib R.a dan Hisyam bin Amir R.a. Ia sempat bertemu dan meriwayatkan hadis dari mereka.

Para ulama zuhud dizamannya banyak berguru hadist padanya. Diantara mereka adalah Abu Qilabah al-Jurmi Rah.a, Ishaq bin Suwaid Rah.a, Ayyub as-Sakhtiyani Rah.a. dan lainnya.

Ia dinyatakan Tsiqah (terpercaya) oleh para ahli hadis, seperti Yahya bin Ma’in Rah.a. Muadzah telah mendapatkan cakupan besar dalam upaya pembelajaran ilmu agama, spiritual, dan ibadah yang ia hasilkan dari para pembela al-Qur’an dan hadis Nabi SAW

Ia sangat gemar membaca Al-Qur’an di shubuh hari dengan disaksikan oleh para malaikat. Ia selalu membaca Al-Qur’an dipagi dan sore hari. Hatinya selalu mengalunkan zikir pada Allah SWT. Tak ada sesuatu pun yang menyibukkannya dari rutinitas ini hingga hari pernikahannya.

Suami Muadzah al-Adawiyyah adalah Shilah bin Asyyam Abu ash-Shahba al-Adawi al-Bashri Rah.a yang juga merupakan salah seorang tabi’in terhormat, pemimpin teladan, pemilik kemuliaan, zuhud dan rajin beribadah. Kedua suami istri ini adalah lautan ilmu dan fiqh, sikap wara’ dan zuhud.

Pernikahannya menyisakan cerita yang menyentuh hati karena didalamnya ada kebaikan tutur kata yang terpatri dalam kenangan masyarakat saat itu. Dari situ mereka menularkannya kepada orang lain agar senantiasa abadi hingga waktu yang Allah kehendaki.

Saat hari pernikahan Muadzah al-Adawiyyah, saat ia diserahkan pada suaminya Shilah bin Asyyam, keponakan Shilah datang dan mengajaknya masuk ke kamar kemudian mendandaninya dengan pakaian terbaik lalu mengantarkannya dirumah yang penuh dengan aroma wangi, memancarkan sebaik-baik minyak wangi.

Setelah suami istri itu bersama-sama dalam satu rumah, Shilah mengucapkan salam kepada Muadzah. Kemudian berdiri untuk shalat, lalu Muadzah pun berdiri mengikutinya shalat. Keduanya larut dalam shalat. Kaeduanya masih shalat hingga tiang-tiang fajar menyongsong keduanya. Shubuh datang mengendus, keduanya lupa bahwa mereka berada dalam malam pengantin.

Keesokan harinya, ia didatangi lagi oleh keponakannya untuk memeriksa keadannya. Akhirnya ia tahu bahwa ia habiskan waktu untuk shalat sampai shubuh menampakan dirinya. Ia pun berkata pada pamannya itu,”Wahai pamanku, putri pamanmu telah diserahkan padamu tadi malam. Lalu engkau melaksanakan shalat dan membiarkannya?”

Shilah menjawab,”Wahai keponakanku! Sesungguhnya engkau telah memasukan diriku kemarin disebuah rumah yang engkau ingatkan aku pada neraka. Kemudian engkau masukkan aku ke sebuah rumah yang engkau ingatkan aku pada surga. Dan pikiranku itu terus menerus ada pada keduanya hingga keesokan hari.”

Dalam suasana seperti ini, Muadzah dan suaminya meneruskan kehidupannya dalam rangka mencari keridhaan Allah SWT. Muadzah telah melukiskan gambaran hidup tentang ibadah suaminya. Ia berkata,” Abu ash-Shahba’ selalu shalat hingga tak mampu datang ketempat tidurnya kecuali dengan merangkak.”

Ibnu Syaudzab menceritakan, Muadzah al-Adawiyyah berkata, Shilah tidak pulang dari masjid rumahnya menuju ke tempat tidurnya kecuali dengan merangkak. Ia berdiri hingga tak tegak lagi dalam shalat.

Lain waktu, Muadzah mengomentari suaminya ketika bersama teman-temannya. ”Apabila Shilah dan teman-temannya bertemu, mereka saling berpelukan satu sama lain.”

Ia mengambil teladan dari suaminya dalam hal ibadah hingga ia menjadi salah satu wanita yang menjadi simbol dalam ibadah. Ia menjadi seorang mukmin yang ikhlas karena Allah SWT. Muadzah adalah seoarng wanita yang beriman yang wara’, rajin beribadah dan bersikap zuhud. Ia menghidupkan semua malamnya untuk beribadah, sehingga sifat bijaksananya mengalir dari lisannya seperti aliran telaga yang bening.

Kata-katanya yang menunjukan kefasihannya, seni bahasa dan kemapanannya berbicara telah diabadikan. Di antara kata-katanya adalah,” Saya heran kepada mata yang tidur, padahal ia tahu betapa lamanya terpuruk dalam kegelapan kubur.”

Perkataannya tak pernah lepas dari nasihat dan peringatan tentang dunia. Ia pernah berkata kepada wanita yang disusuinya,” Wahai anakku, jadikanlah pertemuan dengan Allah SWT dengan diiringi sikap waspada dan pengharapan. Sebab, saya melihat orang yang berharap mendapatkan hak dengan kebaikan tempat kembali di hari ia menghadapNya. Saya melihat orang yang takut mendapatkan angannya akan keselamatan di hari di mana orang-orang berdiri menghadap Tuhan semesta Alam.”

Ia pernah memperingatkan untuk tidak tertipu dan terfokus pada dunia. ”Saya temani dunia selama 70 tahun. Saya tak melihat ketenangan mata sama sekali didalamnya.”

Muadzah telah menyerahkan dirinya untuk beribadah dan shalat. Hampir tak tersisa waktu kecuali ia dalam kesiagaan dengan shalatnya. Ia menghidupkan semua malamnya untuk shalat, berzikir dan bertasbih. Ia melaksanakan shalat pada setiap siang dan malam sebanyak 700 rakaat. Ia membaca Al-Qur’an setiap malam. Allah menggambarkan wanita-wanita shalihah dalam firmanNya, ” Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka).”(QS. An-Nisa:34) . Wanita yang memelihara diri dan harta saat suaminya tidak ada adalah nilai terbesar yang diidamkan dalam diri wanita. Muadzah al-Adawiyyah termasuk dalam golongan ini.

Ketika datang malam, ia berkata,

”Ini adalah hari kematianku.”Ia tidak mau tidur.”

Ketika datang malam, ia berkata,”Ini adalah malam kematianku.” Maka ia tidak tidur hingga pagi. Lalu ketika dia tertidur, ia bangkit dan berlari dalam rumahnya dan mencela dirinya sendiri. Kemudian ia terus-menerus berkeliling hingga pagi karena takut kematian saat ia lengah dan tertidur.

Saat musim dingin datang menyerang, Muadzah sengaja mengenakan pakaian dengan bahan yang lebih tipis hingga udara dingin itu menghalanginya tertidur dan ia tidak bermalas-malasan dari beribadah dan berdoa. Dengan ditemani suaminya, ia bekerja keras untuk ibadah hingga keduanya menjadi perumpamaan. Abu as-Siwar al-Adawi mengatakan,”Bani Adiy adalah komunitas yang paling keras berusaha. Inilah Abu ash-Shahba yang tak tidur malam hari dan tidak berbuka di siang hari. Inilah istrinya Muadzah binti Abdullah yang tak pernah mengangkat kepalanya ke langit selama 40 tahun.”

Di samping dikenal sebagai ahli ibadah, Muadzah juga dikenal sebagai seorang wanita ahli fiqh dan alim. Yahya bin Ma’in mengomentari tentang dirinya, ” Muadzah seorang yang tsiqah dan menjadi hujjah.” Ibnu Hibban juga memasukannya dalam jajaran perawi tsiqah juga memberikan pujian kepadanya.

Pada tahun 62 H, suami dan anaknya menemui syahid di sajistan. Saat berita sampai padanya, ia tak menampar muka atau merobek pakaian, tetapi sabar dan mengembalikannya kepada Allah. Banyak wanita berkumpul dirumahnya untuk menyampaikan belasungkawa. Namun, Muadzah berkata kepada mereka,”Selamat datang kepada kalian jika kalian datang untuk menyampaikan ucapan selamat. Namun jika kalian datang bukan untuk tujuan tersebut, pulanglah.”

Para wanita itu terkagum dengan kesabaran Muadzah. Mereka keluar dengan membicarakan kesabaran yang telah Allah berikan padanya. Peristiwa ini semakin menambah kedudukannya dan posisinya di mata mereka.

Ummu al-Aswad binti Zaid al-Adawiyyah yang pernah disusui olehnya berkata,”Muadzah berkata kepadaku saat Abu ash-Shahba dan anaknya terbunuh,”Demi Allah, wahai putriku!Tidaklah kecintaanku untuk tetap tinggal di dunia untuk kesenangan hidup dan ketenangan jiwa. Tapi sungguh saya tidak suka tetap tinggal kecuali untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan berbagai cara. Semoga Allah mengumpulkan antara diriku dengan Abu ash-Shahba beserta anaknya disurga.

Muadzah mewujudkan perkataan ini dalam perbuatan. Tak ada malam yang ia lewati kecuali senantiasa berdoa kepada Tuhannya dengan perasaan takut dan berharap bertemu denganNya serta berangan-angan mendapatkan rahmatNya. Sejak suaminya syahid, ia tak lagi bersandar dikasur tidurnya hingga meninggal, karena khawatir merasakan kelembutan kasur hingga lupa dengan apa yang ia janjikan kepada Allah untuk senantiasa berdoa.

Dalam kitab Tahdzib at-Tahdzib, Ibnu hajar menuturkan kehormatan tertinggi bagi Muadzah yang menunjukan kedudukannya dalam ibadah. Ada seorang warga Bashrah mengatakan,”Saya mendatangi Muadzah, lalu Muadzah berkata,” Saya mengeluhkan perutku.”Ia telah memberikan resepnya dengan tuak guci. Maka, saya berikan kepadanya secangkir tuak itu dan saya letakkan, maka Muadzah berkata,’Ya Allah, seandainya Engkau mengetahu bahwa Aisyah memberikan hadis padaku, sesungguhnya Nabi SAW, melarang tuak guci maka cukupkanlah diriku dengan apa yang Engkau kehendaki.”

Ia menceritakan,”Maka cangkir itu dibalik dan menumpahkan tuak yang ada didalamnya. Lalu Allah menghilangkan rasa sakit diperutnya.

Sepeninggal suaminya, Muadzah masih hidup lebih 20 tahun. Setiap hari yang ia lewati, senantiasa ia siapkan untuk bertemu dengan Allah SWT. Ia berharap dapat berkumpul kembali dengan suami dan anaknya dalam naungan kasih sayangNya.

Dikisahkan saat menjelang ajalnya, Muadzah menangis kemudian tertawa. Lalu ia ditanya,” Apa alasan untuk menangis dan apa alasan untuk tertawa?”

Ia menjawab,”Adapun tangisanku yang kalian lihat karena saya mengingat perpisahan dengan aktivitas puasa, shalat dan zikir. Itulah tangisan tadi. Adapun senyuman dan tawa, karena saya melihat Abu ash-Shahba telah menyambutku diberanda rumah dengan dua kalung berwarna hijau. Dan ia bersama dalam rombongan. Sungguh saya tidak melihat mereka mempunyai kalung yang menyamainya. Maka saya tertawa.”

Itulah firasatnya. Ia wafat sebelum masuk waktu shalat, pada tahun 83 H.

Usai sudah lembaran hidup wanita yang shalihah dan rajin beribadah ini. Namun sejarah terus menebar keutamaannya agar menjadi teladan bagi para wanita. Semoga Allah merahmati dan melindunginya dari api neraka dan membalasnya dengan balasan terbaik dan menggabungkan dengan orang-orang yang shalih. Maha benar Allah SWT yang telah berfirman: ”Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua syurga.”(QS. Ar-Rahman:46)

Sumber:
Siyar A’lam an-Nubala’:Adz-Dzahabi
Kisah 101 Tabi’in

Tidak ada komentar:

Posting Komentar