Belajar akhlak dari generasi salaf, generasi terbaik yang dimilki ummat ini

Total Tayangan Halaman

Sabtu, 19 Maret 2011

Uthbah bin Ghazwan

Biasanya dipanggil Abu Abdullah. Nama sebenarnya ‘Utbah bin Ghazwan bin Jabir bin Wahib al-Haritsi al-Mazany. Lahir empat puluh tahun sebelum Hijrah Rasulullah. Beliau termasuk dari orang-orang muhajirin yang pertama. Tubuhnya tinggi dan wajahnya ‘gagah’.
Pada awal masuk Islam, beliau disiksa oleh bangsa Quraisy. Hanya saja beliau dalam menghadapi siksaan itu. Namun akhirnya beliau ikut berhijrah ke Habsyah (Ethopia) bersama orang-orang Islam yang lain karena tidak kuat menerima siksaan Quraisy. Setelah beberapa lama di sana, beliau kembali ke Mekkah dan akhirnya ikut berhijrah ke Madinah.
Beliau termasuk pemanah ulung di kalangan bangsa Arab. Setelah dirinya masuk Islam, beliau dikenalkan dengan Abu Dajanah oleh Rasululah. Selama berjuang bersama Rasulullah, beliau ikut dalam Badr. Juga beliau ikut dalam Qodasiah bersama Sa’ad bin Abu Waqos.
Pada masa kholifah Umar bin Khottob, beliau diutus ke kota Ubullah, sebuah kawasan di Persia. Tujuannya untuk mentaklukan kawasan itu. Kota Ubullah merupakan kota yang dijaga ketat yang ada Dajlah. Orang Persia menyimpan senjatanya di situ. Di kota itu juga dibuat tower-tower untuk meneropong musuh. Meski bersamanya dalam jumlah yang kecil, beliau tidak takut. Meski yang digunakan Cuma dan , beliau tidak pantang menyerah. Setelah peperangan selasai akhirnya kawasan itu dapat ditaklukan. Kota Ubullah kemudian diganti dengan nama kota ‘Basrah’. Untuk mengajarkan Islam di sana, dibangunlah masjid sebagai pusat kegiatan umat Islam.
Setelah kawasan itu berhasil ditaklukan, beliau diperintahkan untuk tinggal di kota Basrah untuk mengajarkan Islam kepada penduduk setempat. Setelah beberapa lama di Basrah, beliau pergi ke Maisan dan Abzaqbad. Kedua kawasan ini dapat ditaklukan dengan mudahnya.
Meski harta rampasan melimpah di Ubullah. Beliau tidak tertarik untuk menjadikan dirinya kaya. Beliau adalah orang yang sangat cinta kepada kesederhanaan dan hidup miskin. Sampai banyak kawan-kawannya berusaha untuk mengajak untuk hidup bermewah-mewah. Akan tetapi ajakannya itu ditolak dengan bagus. Dengan rendah hati beliau jawab; “Aku berlindung kepada Allah dari menjadikan diriku besar di sisi duniamu. Sementara kecil di sisi Allah.”
Suatu hari ketika umat Islam berkumpul di masjid di Kuffah, beliau berkhutbah di hadapan mereka. “Wahai kalian semua, bahwasanya dunia telah membisikkan telingga kita bahwa ia akan berakhir (kiamat). Dan setelah itu kalian akan pindah ke alam yang kekal. Maka persiapkan diri kalian kebaikan-kebaikan yang mengantarkan ke dunia yang abadi. Ambillah secukupnya untuk duniamu.”
Selesai melaksanakan tugasnya, beliau menghadap ke Umar bin Khottob. Beliau memohon untuk tidak dijadikan wali lagi. Hanya saja Umar tetap meminta agar beliau masih mau menjabat wali di Basrah. Dengan agak sedikit terpaksa beliau melangkahkan kakinya menuju Basrah. sebelum beranjak beliau berdoa; “Ya Allah semoga Engkau tidak kembalikan aku ke Basrah.” Do’anya dikabulkan. Akhirnya beliau tidak dijadikan wali lagi di Basrah.

Abu Darda'

sesuatu sedikit tapi memberi kecukupan bagimu lebih baik daripada banyak tapi menghancurkanmu
Nama lengkapnya ‘Uwaimir bin Malik bin Qis bin Umaiyah al-Anshory al-Khazrojy. Nama panggilnya Abu Darda. Begitu juga nama gelarnya Abu Darda. Khazrojy berasal dari Khazroj yaitu nama kabilah yang berasal dari Yaman. Setelah itu beliau pindah ke Madinah. Bersama kabilah Aus, kabilah Khazroj merupakan ‘ikon’ penduduk anshor di Madinah.
Suatu hari beliau pergi tempat dagangnya. Sebelum pergi, beliau sempat memandangi patungnya yang diletakkan di tempat paling mulia. Patung itu dihiasi barang-barang mewah. Sesampainya di Yatsrib (Madinah), di mana beliau berjualan, tampak jalan-jalan di pasar dipenuhi pengikut Rasulullah. Kononnya mereka baru pulang dari perang Badr. Diantara pengikut Rasulullah itu ada Abdullah bin Rawaha, teman satu kabilah. Di kalangan kabilahnya, Abdullah dikenal sebagai penyair. Kedunya memang dekat sejak masa jahiliyah. Ketika datang ajaran Islam, Abdullah mengikut ajaran Islam. Sedangkan beliau enggan. Meski demikian, keduanya masih tetap bersahabat baik.
Ketika beliau masih sibuk dengan barang dagangannya, Abdullah menyempatkan diri untuk berkunjung ke rumah beliau. Karena beliau masih di pasar, maka Abdullah hanya bertemu dengan ibunya. Karena sudah kenal, ibunya mengizinkan masuk rumahnya. Abdullah masuk ke kamarnya. Di kamarnya terdapat patung. Kemudian Abdullah mengeluarkan pedangnya. Patung itupun dipotong-potong sambil berucap; “Sesembahan selain Allah adalah batil. Sesembahan selain Allah adalah batil.” Setelah itu Abdullah pergi.
Tidak beberapa lama, beliau datang dari pasar. Dilihatnya wanita menangis tersedu dan dengan suara tinggi di pintu rumahnya. Ada apa gerangan!!!Dilihatnya patung itu sudah berkeping-keping. Wanita itu memberitahu bahwa yang melakukan itu adalah Abdullah bin Rawaha.
Darahnya naik. Marah! Dirinya hendak membalas dendam atas penghinaanya itu. Hanya saja emosinya itu mulai reda. Marahnya sedikit berkurang. Setelah itu beliau berpikir apa yang terjadi dengan patung itu. Dalam hatinya berbisik; “Sekiranya patung itu memberi kebaikan, niscaya dia mampu mempertahankan dirinya!” Akhirnya mendatangi Abdullah. Keduanya kemudian pergi menghadap Rasulullah. Sejak itu, beliau berikrar masuk Islam.
Setelah dirinya dengan ikhlas mengikuti ajaran Rasulullah, beliau mulai rajin menjalankan syariat Islam. Beliau sadar bahwa selama ini kebaikannya sangat sedikit. Maka beliau ingin membuang dosa-dosa masa lampaunya dengan banyak beribadah. Dunia dagangnya ditinggalkan setelah dirinya masuk Islam karena takut menganggu ibadahnya.
Siangnya untuk puasa. Malamnya untuk qiyamul lail ‘sholat malam.’ Terkadang kewajiban sebagai suami kepada istri terlupakan. Hingga suatu hari beliau berjumpa dengan Salman al-Farisi. Waktu itu Salman mendengar bahwa beliau kurang peduli dengan urusan keluarga. Maka Salman menasehatinya; “Ingat, kamu wajib menjalan hakmu kepada tuhanmu dan kamu juga wajib menjalankan hakmu kepada keluargamu.” Begitulah nasehatnya mengikuti ucapan Rasulullah.
Mengenai zuhudnya itu, beliau kata; “Dulu saya seorang pedagang sebelum Islam datang. Ketika ajaran Islam datang dan (saya masuk Islam), saya gabungkan antara dagang dan ibadah. Tapi keduanya tidak bersatu. Hingga akhirnya saya tinggalkan profesi dagang dan saya komitmen dengan ibadah.”
Mengenai ucapannya itu, al-Imam Ad-Dahaby berkata; “afdolnya mengabungkan keduanya dengan berijtihad. Terkadang memang tidak semua mampu mengabungkan keduanya. Akan tetapi hak-hak dalam keluarga juga tidak kalah penting.”
Beliau adalah salah seorang sahabat Rasul yang hafal al-Qur’an. Pada masa kholifah Umar bin Khottob, beliau dijadikan sebagai qodhi di Damaskus. Pada waktu beliau memangku jabatan qodhi di Syam pada masa kholifah Utsman, beliau tidak merasa heran dengan kerusakan penduduk Syam karena keduniaan. Di depan penduduk Syam beliau berkhutbah; “Wahai penduduk Syam, kalian adalah kawan seagama dan tetangga dalam rumah dan penolong dalam menghadapi musuh. Akan tetapi kenapa saya lihat kalian tidak merasa malu. Kalian kumpulkan sesuatu tapi kalian tidak memakannya. Kalian bangun bangunan bagus tapi tidak dihuni. Kalian mengharapkan apa yang tidak inginkan…”
Karena zuhudnya itu, beliau menolak menikahi putrinya dengan Yazid bin Muawwiyah tapi justru menikahi putrinya dengan orang miskin tapi soleh. Hal itu disebabkan kerena beliau takut akan melalaikan akherat.
Mengenai pribadinya Rasulullah pernah bersabda; “’Uwaimir adalah hakim umatku. Dan sebaik-baiknya tentara adalah ‘Uwaimir.” Dari Anas diceritakan bahwa Rasulullah wafat dan al-Qur’an belum dikumpulkan selain empat orang; Abu Darda, Mu’adh, Zaid bin Tsabit dan Abu Zaid.”
Diantara ucapan beliau yang terkenal;
“Kenapa saya lihat orang alim yang ada pada kalian pergi dan orang-orang bodoh engak belajar. Belajarlah! Karena orang alim dan orang yang belajar itu keduanya saling membagi pahala.”
“Celaka sekali bagi orang tidak tahu dan celaka tujuh kali bagi orang yang tahu tapi tidak mau mengerjakan.”
“Ingat, sesuatu sedikit tapi memberi kecukupan bagimu lebih baik daripada banyak tapi menghancurkanmu”
Selama berjuang bersama Rasulullah, beliau telah meriwayatkan kurang lebih 179 hadits. Diantara hadits riwayatnya itu; Rasulullah bersabda; “Kumpulkan aku dengan dhu’aafa (orang-orang lemah). Kalian dimenangkan dan diberi rezki sebab orang-orang dhu’afa.”
Pada tahun 32 Hijriah beliau wafat di Syam. Pendapat lain mengatakan beliau wafat tahun 23 Hijriah di Madinah.

Muadz bin Jabal

Lahir dua puluh tahun sebelum Hijrah. Biasanya dipanggil Abu Abdurahman. Nama lengkapnya Mu’adh bin Jabal bin Amru bin Aus al-Anshory al-Khazrojy.

Dakwah ajaran Islam yang disampaikan dengan cara santun, berhikmah dan penuh suri tauladan menjadikan beliau tertarik untuk mempelajari Islam. Atas bimbingan Mush’ab bin ‘Umair, beliau berikrar masuk Islam. Dari sinilah beliau mulai belajar banyak tentang Islam yang dibawa utusan Allah, .
Beliau adalah orang cerdas dan bijaksana. Bicaranya bagus dan runtut. Tidak banyak bicara kecuali ditanya. Seakan-akan apa yang keluar dari mulutnya adalah cahaya dan barang berharga. Seorang yang punya haibah dan wibawa tinggi di kalangan sahabat lainnya.
Pada waktu Rasulullah datang ke Madinah untuk berhijrah, beliau sangat senang dan ingin sekali bertemu langsung dengan Rasulullah. Kesempatan bertemu dengan Rasulullah digunakan untuk menimba ilmu yang banyak. Bahkan beliau sangat rajin dan teliti dalam mempelajari dalam syariah Islam. Hingga di kemudian hari beliau menjadi orang yang sangat pandai dalam al-Qur’an dan sunah Rasulullah.
Beliau termasuk orang yang ikut dalam pembaiaatan Aqobah kedua. Pada masa Rasulullah beliau salah seorang dari enam pengumpul al-Qur’an. Semasa hidupnya ikut berperang di Badr, Khandaq dan hampir semua peperangan.
Untuk penyebaran ajaran Islam, Rasulullah mengutus beliau ke Yaman untuk menjadi qodhi dan guru. Rasulullah juga menulis surat untuk penduduk Yaman. Dalam surat itu beliau berkata; “Saya utus kepada kalian orang yang paling baik dan pintar dari umatku.” Ketika hendak berangkat ke Yaman, Rasulullah bertanya; “Dengan apa kamu akan menghukumi wahai Mu’adh?” Beliau menjawab; “Dengan kitab suci al-Qur’an.” Rasul bertanya lagi; “Kalau tidak ditemukan dalam kitab suci?” Beliau menjawab; “Dengan sunah Rasulullah.” Rasulullah bertanya lagi; “Kalau tidak ada dalam sunah Rasulullah?” Beliau menjawab; “Saya akan berijtihad dengan akalku dan saya tidak akan sembrono/ngawur.” Mendengar jawabnya, Rasulullah bergembira sambil berkata; “Segala puji bagi Allah yang telah memberikan pertolongan kepada utusan Rasul yang diridhoinya.”
Mengenai pribadinya, Rasulullah berkata; “Mu’adh bin Jabal adalah orang yang paling tahu hukum dari umatku.” Di hadits lain disebutkan; “Mu’adh bin Jabal adalah imamnya para ulama pada hari kiamat.” Rasulullah pernah berpesan kepadanya; “Wahai Mu’adh, demi Allah aku sangat cinta padamu, maka jangan lupa setiap habis sholat kamu membaca do’a ‘Allahumma ‘ainni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik’ (Ya Allah dengan berdzikir, bersyukur dan beribadah karena mu aku meminta perlindungan)
Pujian Umar bin Khottob kepada beliau; “Sekiranya tidak ada Mu’adh bin Jabal niscaya Umar akan binasa.” Kononnya, ketika ada persoalan dan masalah Umar selalu minta tolong kepada Mu’adh untuk memberikan pandangan dan pendapatnya. Maka tidak berlebihan jika Umar memberikan yang sepantasnya. Di sisi lain Ibn Mas’ud juga memberikan pujian kepadanya; “Sungguh, Mu’adh adalah orang yang rajin ibadah dengan ikhlas. Kami menyamakan Mu’adh dengan nabi Ibrahim as.”
Diantara kata-kata hikmah beliau;
“Ketahuilah itu dengan kebanaran. Sebab itu mempunyai cahaya. Maka berhati-hatilah hakim yang rusak hatinya.”
“Belajarlah apa saja yang kalian mau, maka ilmu kalian tidak akan memberi manfaat apapun kecuali diamalkan dengan baik.”
Pada waktu Mu’adh menjadi wali di Yaman, Umar bin Khottob kepada Abu Bakar agar kekayaan dan hartanya dibagi dua kepada Mu’adh. Tapi ternyata beliau menolak tawaran itu. Umar pun merasa lega dan tidak terbebani. Setelah itu pergi ke Abu Bakar. Abu Bakar pun menolak untuk mengambil harta itu. Umar berkata; “Sekarang harta kekayaanku sudah halal dan baik.”
Selama berjuang dalam ajaran Islam, beliau ikut dalam penakluka-penaklukan Syam bersama Abu ‘Ubaidah bin al-Jarah. Ketika Abu ‘Ubaidah terkena penyakit campak yang mematikan, beliau mengantikan posisinya. Kurang lebih ada 157 hadits yang beliau riwayatkan selama berjuang bersama Rasulullah.
Diantara hadits yang diriwayatkan itu;
“Suatu mengutusku. Rasululluh berkata; “Kamu akan mendatangi suatu kaum dari pengikut ahli kitab. Kamu ajak mereka untuk bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Sekiranya mereka mentaati dan setuju dengan itu, maka ajari mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka sholat lima kali dalam sehari semalam. Sekiranya mereka mentaati dan setuju dengan itu, maka ajari mereka bahwa Allah telah mewajibkan untuk membayar zakat yang diambil dari dan dibagikan kepada orang miskin. Sekiranya mereka mentaati perkara diatas, maka hendaklah kamu berhati-hati dengan harta mereka, dan takutlah dengan do’a orang yang terdholimi. Sebab do’anya itu dikabulkan oleh Allah.”(HR.Bukhori dan Muslim)
Amanah dan pesan yang disampaikan Rasulullah kepada beliau dapat dilaksanakand dengan baik. Hanya saja beliau tidak sempat berjumpa dengan Rasulullah sebelum wafatnya. Karena beliau belum balik dari Yaman. Maka tidak diragukan lagi mendengar berita wafatnya Rasulullah, beliau bersedih.
Pada tahun 18 Hijriah di dekat kawasan Yordan, beliau mengembuskan nafas terakhir. Pendapat lain mengatakan di Palestina. Beliau dikuburkan di gua. Menjelang ajalnya lepas dari tubuhnya beliau sempat berucap; “Selamat datang kematian. Yang dicinta datang dengan segara.”

Ibn Abbas

ilmu kalian tidak akan memberi manfaat sedikitpun kecuali diamalkan dengan baik.”

Lahir di Sya’b tiga tahun sebelum peristiwa hijrah (Hijriah) pada waktu umat Islam dikepung oleh kaum kafir. Nama lengkapnya Abdullah bin al-Abbas bin Abdul Mutholib al-Quraisyi al-Hasyimi. Biasanya dipanggil Abul ‘Abbas dan digelari “habrul ummah”(ilmuan Umat) dan “Turjuman al-Qur’an”(Penerjemah al-Qur’an). Ibunya bernama Ummul Fadhil Lubabah binti al-Harits al-Hilaliyah. Beliau adalah anak dari paman Rasulullah. Badannya tidak terlalu tinggi, wajahnya ganteng dan kulitnya putih. Kalau bicara sopan dan baik tutur katanya.
Sebelum kelahirannya, ibunya pernah berjumpa dengan Rasulullah. Rasulullah mengkabarkan bahwa kelak akan lahir seorang anak laki-laki. Rasulullah pun meminta kepada ibunya agar setelah lahir supaya dibawa ke tempatnya. Setelah lahir, ibunya membawanya ke Rasulullah. Rasulullah memberi nama anaknya, Abdullah.
Ketika Rasulullah wafat, umur beliau baru tiga belas tahun. Pendapat lain mengatakan umur beliau pawa waktu Rasulullah wafat lima belas tahun. Dari Ibn Abbas diceritakan bahwa Rasulullah wafat ketika saya berumur lima belas tahun.”(lihat Sair ‘alam an-nubala). Jadi kurang lebih beliau berjumpa Rasulullah hanya tiga puluh bulan saja.
Beliau adalah orang yang sangat alim. Dalam usaha mencari ilmu dan mempelajari ajaran Islam, beliau adalah tauladan dan contoh bagi generasi kita. Beliau sangat serius dan tidak mengenal lelah. Sebab ilmu tidak didapat dengan leha-leha, tapi harus digali secara serius. Di kalangan para sahabat beliau dikenal orang yang paling banyak berfatwa dan berijtihad. Di samping itu beliau juga sahabat yang paling banyak meriwayatkan Rasulullah bersama Abu Hurairah, Ibn Umar, Jabir, Anas dan ‘Aisyah. Dalam sejarah Islam, beliau termasuk sahabat yang dikenal dengan sebutan ‘abadalah al-arba’ah’ yaitu empat sahabat yang bernama Abdullah. Tiga yang lainnya adalah Abdullah bin Umar, Abdullah bin Zubair dan Abdullah bin Amru.
Mengenai pribadinya, Ibn Mas’ud berkata; “Penerjemah al-Qur’an yang baik adalah Ibn ‘Abbas.” Mujahid berkata; “Ibn ‘Abbas jika mentafsiri sesuatu, saya melihat cahaya darinya.” ‘Atho berkata; “Saya tidak melihat bulan purnama pada malam ke empat belas melainkan saya teringat dengan wajah Ibn ‘Abbas.” Pujian lain datang dari Amru bin Dinar, “Saya tidak pernah melihat suatu majlis yang menghimpun semua kebaikan kecuali majlisnya Ibn Abbas; mengenai halal dan haram, bahasa Arab, ilmu nasab dan syair.”
Suatu ketika Rasulullah mendo’akan beliau, “Ya Allah berilah dia kepahaman dalam agama, dan ajarkan dia (ilmu) takwil.” Di lain Rasulullah berdo’a, “Ya Allah, ajarkan dia ilmu hikmah,”
Karena keluasan ilmu dan pengetahuannya tentang ajaran Islam, Umar tidak segan-segan menanyakan suatu perkara yang mungkin tidak diketahui. Bahkan tidak malu-malu, beliau didudukkan bersama pembesar umat Islam dan syeikh-syeikh Badr. Beliau gemar berkelana ke pelbagai tempat untuk menimba ilmu. Beliau pernah qosidah (rangkuman syair) yang terdiri dari 80 bait dan mampu menghafalnya.
Selama hidupnya beliau bersama Ali pernah ikut menyaksikan peristiwa Jamal dan Shiffin. Pada waktu Ali menjabat kholifah keempat, beliau ditunjuk untuk menjadi wali di Basrah. Tapi akhirnya jabatan wali itu ditinggalkan sebelum Ali ra terbunuh. Dan kembali lagi ke Hijaz. Ketika terjadi pertikaian antara Abdullah bin az-Zubair dan orang-orang Umayah beliau tidak ikut campur.
Setelah tidak menjabat wali di Basrah, beliau menetap di Thoif. Di sanalah beliau mengamalkan ilmunya dan mengajarkan pada orang lain. Majlis yang diadakan beliau banyak diminati orang. Kebanyakan kitab-kitab tafsir al-Qur’an yang ada banyak menisbatkan kepada beliau. Sebagian ahli-ahli bidang ini mengumpulkan takwilnya.
Meskipun tidak lama hidup berdamping bersama Rasulullah, tapi beliau sangat rajin menimba ilmu langsung dari Rasulullah. Sehingga banyak sekali - yang diriwayatkannya. Kurang lebih ada 1660 yang beliau riwayatkan.
Diantara riwayat haditsnya, Rasulullah bersabda “Dua kenikmatan yang melalaikan kebanyakan manusia; kesehatan dan waktu luang.”
Pada tahun 68 Hijriah beliau meninggal dunia. bin al-Hanifah ikut jenazahnya. Apa kata al-Hanafiyah mengenai kematiannya pada waktu mau dikubur, “Pada hari ini seorang ahli agama telah meninggal dunia.” Diatas bumi Thoif itulah tempat jasad beliau dikubur. Putra-putra beliau; al-‘Abbas, Ali as-Sajjad, al-Fadhl, , Abdullah, Lubabah dan Asma.

Abdullah bin Mas'ud

Saya tidak takut anak perempuanku menjadi fakir miskin
Nama lengkapnya Abdullah bin Mas’ud bin Ghofil bin Habib al-Hadzaly. Biasanya dipanggil Abu Abdurrahman. Beliau dikenal dengan sebutan “Habrul Ummah”(ilmuan umat Islam) seperti halnya Ibn ‘Abbas. Beliau juga termasuk orang yang ahli fiqh.
Mengenai keislamannya, beliau masuk Islam sebelum Rasulullah datang ke rumah al-Arqom. Rumah inilah yang menjadi cikal bakal tempat pengajian ajaran Islam dimana para sahabat hadir di sana. Beliau termasuk enam orang yang masuk Islam pada awal-awal datangnya Islam. Masa kecilnya dihabiskan untuk mengembala kambing milik ‘Uqbah bin Abu Mu’id di Mekkah. Maklum, orang tuanya bukan orang yang kaya yang mampu mencukupi kebutuhan hidupnya.
Tubuhnya mempunyai kemiripan dengan Rasulullah, terutama ketika berjalan dan cara jalannya. Badanya tidak terlalu gemuk agak kurus sedikit. Agak pendek badanya. Hampir-hampir orang yang duduk itu menyamai ketika beliau berdiri. Kalau berpakian rapih dan bersih. Serta memakai wangi-wangian. Kononnya kalau beliau keluar rumah, para tetangga tahu kalau beliau sedang lewat. Beliau memang suka memakai wangi-wangian.
Diceritakan dari Ali bin Abu Tholib bahwa suatu hari Rasulullah menyuruh Ibn Mas’ud untuk menaiki pohon untuk mengambil sesuatu darinya. Para sahabat yang berada dibawah pohon melihat betis Ibn Mas’ud begitu kecil. Mereka tertawa karena betisnya tidak berisi. Kemudian Rasulullah bertanya, “Kenapa kalian tertawa? Kalian tahu bahwa kaki Abdullah bin Mas’ud kelak di akherat nanti timbangannya lebih berat daripada gunung Uhud.”(HR.Ahmad, 114/1)
Ketika Rasulullah perintahkan umat Islam berhijrah karena adanya siksaan dari kafir Quraisy yang begitu menyakitkan, beliau ikut berhijrah ke Habsyah (Ethopia) dan Madinah. Selama berjuang bersama Rasulullah, beliau ikut terlibat dalam semua peperangan. Rasulullah memberi kesaksian bahwa beliau kelak akan masuk surga.
Pada waktu Umar menjabat sebagai kholifah, beliau pernah ditugaskan untuk menjadi guru di Kuffah. Dan juga menjadi menteri bagi Ammar bin Yasir sebagai wali kota itu. Pengalaman beliau mengajarkan ajaran Islam di Kuffah, menjadikan dirinya semakin dekat dengan Allah. Dan betapa pentingnya belajar dan mengajar. Dalam kesehariannya beliau banyak bangun malam untuk bertahajud.
Mengenai pribadinya, Abdullah bin Amru berkata, Rasulullah pernah bersabda, “Belajarlah al-Qur’an dari empat sahabat; Ibn Mas’ud, Ubay bin Ka’ab, Mu’adh bin Jabal dan Salim budak Abu Khuzaifah.” Meskipun tubuhnya tidak kecil tapi beliau mempunyai kelebihan dalam suara. Beliau lah orang Islam pertama yang membaca al-Qur’an dengan suara keras.
Suatu hari Rasulullah bertanya kepadaku (Ibn Mas’ud), “Bacalah untuk.” Saya jawab, “Apakah saya harus membaca untukmu sedangkan Wahyu itu diturunkan kepadamu?” Rasulullah menjawab; “Sungguh, bahwa saya ingin mendengar dari orang lain.” Kemudian saya pun membaca untuk Rasulullah surah an-Nisa hingga sampai ayat 41“Bagaimana jika kami datangkan saksdi dari semua umatku dan kami bawa kamu kepada mereka” Rasul berkata; “Tahan!” Ternyata mata Rasulullah meneteskan air mata.
Sebelum wafatnya Utsman bin Affan pernah menawarkan beliau untuk memberikan sebagian hartanya kepada putrinya. Dengan cara halus beliau menolak tawaran itu sembari berkata, “Saya tidak takut anak perempuanku menjadi fakir miskin.” Beliau melajutkan ucapannya tadi, “Tiap malam saya suruh anak perempuanku saya untuk membaca surah al-Waqiah. Sebab saya pernah mendengar Rasulullah bersabda, “Barangsiapa membaca surah al-Waqiah tiap malam, dia tidak tertimpa kefakiran selamanya”(ibn Katsir menyebutkan dalam kitabnya).
Diantara kata-kata hikmah dan wasiat beliau,
“Dari al-Masib bin Rofi’ bercerita bahwa Ibn Mas’ud pernah berkata, “Sungguh saya sangat benci dengan orang yang tidak punya kesibukan dengan akherat dan juga kesibukan dunia.”
“Janganlah salah seorang dari kalian mengikuti agama orang lain. Jika dia beriman, kalian beriman. Jika dia kafir, kalian ikut kafir. Sekiranya memang harus ikut dengan, maka ikutilah orang yang sudah mati. Sebab yang masih hidup tidak aman dari firnah.”(lihat sofwahus sofwah,1/220-21).
“Dari Abdurahman bin Abdullah bin Mas’ud, anaknya, diceritakan bahwa seorang laki-laki datang padanya. Orang itu bertanya, “Wahai Abu Abdurahman, ajarkan kepadku kalimat yang banyak dan bermanfaat.” Beliau menjawab, “Janganlah kamu syirik kepada Allah, dimana kamu berada datangilah al-Qur’an, jika datang kepadamu kebenaran maka terimalah kebenaran itu meskipun dia itu bukan kerabatmu dan tidak disukai. Dan jika datang kepada kebatilan maka tolaklah meskipun dia datang dari orang yang dicintau dan kerabatmu.”
Selama berjuang bersama Rasulullah, beliau telah meriwayatkan kurang lebih 848 hadits. Diantara hadits riwayatnya itu, dari Rasulullah, beliau bersabda; “Hendaklah kalian berlaku jujur karena kejujuran akan membawamu kepada kebaikan dan kebaikan akan membawamu ke surga. Jauhilah olehmu dusta karena dusta itu membawa kepada dosa, dan dosa itu membawamu ke neraka..”(HR.Muslim)
Setelah hidupnya didedikasikan untuk menyebarkan ajaran Islam, akhirnya beliau meninggal dunia pada tahun 32 Hijriah. Sebelum wafatnya beliau sempat berpesan kepada Zubair bin Awwam untuk mensholatinya. Beliau dikuburkan di kuburan Baqi’ (samping masjid Nabawi, Madinah).

Abu Musa dan al-Asy’ari

Ada dua hal yang dapat memutus dariku dunia; mengingat mati..

Dilahirkan di Zabin, Yaman, 21 tahun sebelum Hijriah. Nama lengkapnya Abu Abdullah bin Qis bin Salim bin Hadhor bin Harb. Nama panggilannya Abu Musa dan al-Asy’ari dinisbahkan kepada bani al-Asy’ar di Qohthan. Beliau adalah seorang zahid, ahli fiqh, al-Imam al-Kabir dan ahli ibadah. Tubuhnya tidak gemuk dan tidak terlalu pendek. Suaranya bagus.
Sejarah beliau dimulai dari Yaman tempat dimana beliau dilahirkan. Masa itu penduduk Qohtahn banyak yang menyembah berhala. Meskipun beliau masih berusia muda, tapi beliau menolak dan menginkari penyembahan berhala yang berlaku di masyarakatnya. Beliau tahu bahwa berhala yang disembah tidak memberikan manfaat dan juga bahaya. Dalam hatinya berkeinginan agar datang pertolongan dari langit untuk menyelamatkan manusia dari penyembahan berhala. Keinginannya itu terwujud ketika beliau mendengar bahwa Muhammad bin Abdullah adalah utusan Allah mengajarkan agama tauhid, mengajak kepada amar ma’ruf dan budi pekerti mulia.
Maka dengan niat ikhlas beliau meninggalkan tanah kelahirannya pergi menuju Mekkah tempat di mana Rasulullah diutus. Sesampainya di Mekkah beliau duduk di sekeliling Rasulullah dan belajar darinya. Selama mengikuti ajaran Rasulullah, beliau sangat rajin dan . Akhirnya setelah merasa cukup beliau pulang ke Yaman untuk mengajarkan agama tauhid yang dibawa Rasulullah. Sedikit banyak beliau membawa perubahan di kaumnya.
Kemudian beliau balik ke hadapan Rasulullah setelah selesai perang Khoibar. Kebetulan kedatangannya bersamaan dengan datangnya Ja’far bin Abu Tholib bersama sahabat lain dari Habsyah (Ethopia). Di situlah Rasulullah memberikan penerangan tentang ajaran Islam kepada semua yang datang. Ternyata kedatangan beliau dari Yaman tidak hanya seorang diri. Tapi beliau datang bersama 53 lebih dari laki-laki dari penduduk Yaman. Dua saudara sedarahnya juga ikut datang yaitu Abu Ruhm dan Abu Burdah. Orang-orang yang datang bersama beliau oleh Rasulullah “al-Asy’ariun”(orang-orang Asy’ari).
Mengenai kisah hijrahnya, beliau berkata; “Kami keluar dari Yaman bersama 53 orang lebih dari kaumku. Suadaraku Abu Ruhm dan Abu Burdah juga ikut. Kami berlayar dengan prahu ke Najashy, Ethopia. Ternyata di sana sudah ada Ja’far dan sahab-sahabat lain. Kemudian kami bertemu setelah selesai perang Khaibar. Kemudian Rasulullah berkata; “Kamu berhijrah dua kali; pertama ke Nahashy dan kedua hijrah kepadaku.”(HR.Bukhori Muslim). Sejak itulah Rasulullah sangat cinta padanya, dan juga kaumnya. Anehnya sebelum kedatangan beliau, Rasulullah berkata kepada para sahabat bahwa akan datang kepada kami besok suatu kaum hatinya sangat lembut. Besok harinya kedatangan mereka disambut meriah dengan saling berjabat tangan. Inilah pertama berjabat tangan dalam Islam.
Beliau adalah seorang faqih (ahli fiqh) dan sangat cerdas sehingga dapat memahami setiap persoalan yang muncul. Disebutkan bahwa beliau termasuk empat orang ahli hukum umat Islam; Umar, Ali, Abu Musa dan Zaid bin Tsabit. Tidak hanya itu, beliau juga penguasa yang sangat berani. Di medan perang, dengan beraninya beliau sanggup memikul beban dan tanggungjawab pasukan umat Islam. Hingga suatu ketika Rasulullah berkata, “Tuan para kesatria adalah Abu Musa.” Rasulullah pernah menugaskan beliau menjadi penguasa atau wali di kota Zabid dan Adnan.
Diantara para sahabat, beliau lah yang mempunyai suara bagus ketika membaca al-Qur’an. Kelembutan dan kehalusan suaranya membuat orang yang mendengarkan terharu dan teruhnya hatinya. Suaranya mampu menembus ke relung hati. Dari Abu Musa diceritakan bahwa Rasulullah berkata, “Wahai Abu Musa, kamu telah diberi seruling dari serulingnya (bagus suaranya) keluarga Daud.”(HR.Bukhori Muslim). Di hadits lain diceritakan, Anas berkata suatu hari malam beliau (Abu Musa) melakukan sholat malam. Bacaan al-Qur’an dalam sholatnya itu terdengar oleh istri-istri Rasulullah. Merekapun bangun dan mendengarkan dengan baik. Ketika pagi-pagi beliau diberitahu bahwa istri-istri Rasul mendengar bacaannya.
Biasanya kalau Umar bin Khottob bertemu dengannya, beliau mesti diperintah untuk membaca al-Qur’an sembari berkata, “Wahau Abu Musa, kami rindu dengan lantunan ayat-ayat suci al-Qur’an.” Pada waktu Umar bin Khottob mengutus beliau untuk menjadi wali dan amir di Basrah pada tahun 17 Hijriah, beliau mengumpulkan penduduk Basrah sembari berkhutbah; “Amirul mukminin mengutusku untuk mengajarkan kepada kalian kitab Allah dan sunnah Rasul. Dan juga untuk membersihkan jalan kesesatan kalian.” Kota Asbahan dan Ahwaz ditaklukan pada masa Umar.
Pada masa kholifah Utsman beliau ditugaskan untuk menjadi wali di Basrah, tapi kemudian beliau mengundurkan diri. Setelah itu dipindah ke Kuffah. Pada waktu terjadi fitnah dan perselisihan antara Ali dengan Muawwiyah, beliau mengajak penduduk Basrah untuk memberikan dukungan kepada Ali.
Selama berjuang bersama Rasulullah, belaiu telah meriwayatkan kurang lebih 355 hadits. Diantara hadits riwayatnya, dari Rasulullah bersabda; “Sesungguhnya Allah membentangkan tangannya di malam hari untuk memberi ampunan bagi orang yang berbuat jahat di siang hari. Dan Allah bentangkan tangganya di siang hari untuk memberi ampunan bagi orang yang berbuat jahat di malam hari hingga matahari terbenam.”(HR.Muslim)
Suatu hari beliau berkata; “Ada dua hal yang dapat memutus dariku dunia; mengingat mati dan mengingat dosa dihadapan Allah.”
Beberapa kata hikmah dan petuah beliau;
“Ikutilah petunjuk al-Qur’an…jangan pernah merasa jemu untuk ikut,
Beliau wafat di Kuffah pada tahun 44 Hijriah.

Jumat, 18 Maret 2011

10 Sahabat Dijamin Syurga

Sahabat Rasulullah SAW yang dijamin masuk surga berdasarkan hadits berikut: Tercatat dalam “ARRIYADH ANNADHIRAH FI MANAQIBIL ASYARAH“ dari sahabat Abu Dzar ra, bahwa Rasulullah masuk ke Aisyah ra dan bersabda: “Wahai Aisyah, inginkah engkau mendengar kabar gembira?” Aisyah menjawab : “Tentu, ya Rasulullah.” Lalu Nabi SAW bersabda, ”Ada sepuluh orang yang mendapat kabar gembira masuk surga, yaitu : Ayahmu masuk surga dan kawannya adalah Ibrahim; Umar masuk surga dan kawannya Nuh; Utsman masuk surga dan kawannya adalah aku; Ali masuk surga dan kawannya adalah Yahya bin Zakariya; Thalhah masuk surga dan kawannya adalah Daud; Azzubair masuk surga dan kawannya adalah Ismail; Sa’ad masuk surga dan kawannya adalah Sulaiman; Said bin Zaid masuk surga dan kawannya adalah Musa bin Imran; Abdurrahman bin Auf masuk surga dan kawannya adalah Isa bin Maryam; Abu Ubaidah ibnul Jarrah masuk surga dan kawannya adalah Idris Alaihissalam.”
Kisah singkat 10 Sahabat
1. Abu Bakar bin Abi Qahafah (As siddiq), adalah seorang Quraisy dari kabilah yang sama dengan Rasulullah, hanya berbeda . Bila Abu Bakar berasal dari Tamimi, maka Rasulullah berasal dari Hasyimi. Keutamaannya, Abu Bakar adalah seorang pedagang yang selalu menjaga kehormatan diri. Ia seorang yang kaya, pengaruhnya besar serta memiliki yang mulia. Sebelum datangnya Islam, beliau adalah sahabat Rasulullah yang memiliki karakter yang mirip dengan Rasulullah. Belum pernah ada orang yang menyaksikan Abu Bakar arak atau pun menyembah berhala. Dia tidak pernah berdusta. Begitu banyak kemiripan antara beliau dengan Rasulullah sehingga tak heran kemudian beliau menjadi khalifah pertama setelah Rasulullah wafat. Rasulullah selalu mengutamakan Abu Bakar ketimbang para sahabatnya yang lain sehingga tampak menojol di tengah tengah orang lain.
“Jika ditimbang Abu Bakar dengan seluruh niscaya akan lebih berat Abu Bakar. ”(HR. Al Baihaqi)
Al Qur’an pun banyak mengisyaratkan sikap dan tindakannya seperti yang dikatakan dalam firmanNya, QS Al Lail 5-7, 17-21, Fushilat 30, At Taubah 40. Dalam masa yang singkat sebagai Khalifah, Abu Bakar telah banyak memperbarui kehidupan kaum muslimin, memerangi nabi palsu, dan kaum muslimin yang tidak mau membayar zakat. Pada masa pemerintahannya pulalah penulisan AlQur’an dalam lembaran-lembaran dimulai.
2. Umar Ibnul Khattab, ia berasal dari kabilah yang sama dengan Rasulullah SAW dan masih satu kakek yakni Ka’ab bin Luai. Umar masuk Islam setelah bertemu dengan adiknya Fatimah daan suami adiknya Said bin Zaid pada tahun keenam kenabian dan sebelum Umar telah ada 39 orang lelaki dan 26 wanita yang masuk Islam. Di kaumnya Umar dikenal sebagai seorang yang pandai berdiskusi, berdialog, memecahkan permasalahan serta bertempramen kasar. Setelah Umar masuk Islam, da’wah kemudian dilakukan secara terang-terangan, begitupun di saat hijrah, Umar adalah segelintir orang yang berhijrah dengan terang-terangan. Ia sengaja berangkat pada siang hari dan melewati gerombolan Quraisy. Ketika melewati mereka, Umar berkata, ”Aku akan meninggalkan Mekah dan menuju Madinah. Siapa yang ingin menjadikan ibunya kehilangan putranya atau ingin anaknya menjadi yatim, silakan menghadang aku di belakang lembah ini!” Mendengar perkataan Umar tak seorangpun yang berani membuntuti apalagi mencegah Umar. Banyak pendapat Umar yang dibenarkan oleh Allah dengan menurunkan firmanNya seperti saat peristiwa kematian Abdullah bin Ubay (QS 9:84), ataupun saat penentuan perlakuan terhadap tawanan saat perang Badar, pendapat Umar dibenarkan Allah dengan turunnya ayat 67 surat Al Anfal.
Sebagai khalifah, Umar adalah seorang yang sangat memperhatikan kesejahteraan ummatnya, sampai setiap malam ia berkeliling khawatir masih ada yang belum terpenuhi kebutuhannya, serta kekuasaan Islam pun semakin meluas keluar jazirah Arab.
3. Utsman bin Affan, sebuah Hadits yang menggambarkan pribadi Utsman : “Orang yang paling kasih sayang diantara ummatku adalah Abu Bakar, dan paling teguh dalam menjaga ajaran Allah adalah Umar, dan yang paling bersifat pemalu adalah Utsman. (HR Ahmad, Ibnu Majah, Al Hakim, At Tirmidzi) Utsman adalah seorang yang sangat dermawan, dalam sebuah persiapan pasukan pernah Utsman yang membiayainya seorang diri. Setelah kaum muslimin hijrah, saat kesulitan air, Utsmanlah yang membeli sumur dari seorang Yahudi untuk kepentingan kaum muslimin. Pada masa kepemimpinannya Utsman merintis penulisan Al Qur’an dalam bentuk mushaf, dari lembaran-lembaran yang mulai ditulis pada masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar.
4. Sahabat berikutnya adalah Ali bin Abi Thalib, pemuda pertama yang masuk Islam, ia yang menggantikan posisi Rasulullah di tempat tidurnya saat beliau hijrah, Ali yang dinikahkan oleh Rasulullah dengan putri kesayangannya Fatimah, Ali yang sangat sederhana kehidupannya.
5. Sahabat kelima yang  dijamin oleh Rasulullah SAW masuk surga adalah Thalhah bin Ubaidillah yang pada Uhud terkena lebih dari tujuh puluh tikaman atau panah serta jari tangannya putus. Namun Thalhah yang berperawakan kekar serta sangat kuat inilah yang melindungi Rasulullah disaat saat genting, beliau memapah Rasulullah yang tubuhnya telah berdarah menaiki bukit Uhud yang berada di ujung medan pertempuran saat kaum musyrikin pergi meninggalkan medan peperangan karena mengira Rasulullah telah wafat. Saat itu Thalhah berkata kepada Rasulullah, ”Aku tebus engkau ya Rasulullah dengan ayah dan ibuku.” Nabi tersenyum seraya berkata, ”Engkau adalah Thalhah kebajikan.” Sejak itu Beliau mendapat julukan Burung Elang hari Uhud. Rasulullah pernah berkata kepada para sahabatnya, ”Orang ini termasuk yang gugur dan barang siapa yang senang melihat seorang yang syahid berjalan di muka bumi maka lihatlah Thalhah.”
6. Azzubair bin Awwam, sahabat yang berikutnya, adalah sahabat karib dari Thalhah. Beliau muslim pada usia lima belas tahun dan hjrah pada usia delapan belas tahun, dengan siksaan yang ia terima dari pamannya sendiri. Kepahlawanan Azzubair ibnul Awwam pertama terlihat dalam Badar saat ia berhadapan dengan Ubaidah bin Said Ibnul Ash. Azzubair ibnul Awwam berhasil menombak kedua matanya sehingga akhirnya ia tersungkur tak bergerak lagi, hal ini membuat pasukan Quraisy ketakutan.
Rasulullah sangat mencintai Azzubair ibnul Awwam beliau pernah bersabda, ”Setiap nabi memiliki pengikut pendamping yang setia (hawari), dan hawariku adalah Azzubair ibnul Awwam.” Azzubair ibnul Awwam adalah suami Asma binti Abu Bakar yang mengantarkan makanan pada Rasul saat beliau hijrah bersama ayahnya. Pada masa pemerintahan Umar, saat panglima perang menghadapi tentara Romawi di Mesir Amr bin Ash meminta bala bantuan pada Amirul Mu’minin, Umar mengirimkan empat ribu prajurit yang dipimpin oleh empat orang komandan, dan ia menulis surat yang isinya, ”Aku mengirim empat ribu prajurit bala bantuan yang dipimpin empat orang sahabat terkemuka dan masing-masing bernilai seribu orang. Tahukah anda siapa empat orang komandan itu? Mereka adalah Ubadah ibnu Assamit, Almiqdaad ibnul Aswad, Maslamah bin Mukhalid, dan Azzubair bin Awwam.” Demikianlah dengan izin Allah, pasukan kaum muslimin berhasil meraih kemenangan.
7. Adalah Abdurrahman bin Auf, yang disebutkan berikutnya, adalah seorang pedagang yang sukses, namun saat berhijrah ia meninggalkan semua harta yang telah ia usahakan sekian lama. Namun saat telah di Madinahpun beliau kembali menjadi seorang yang kaya raya, dan saat beliau meninggal, wasiat beliau adalah agar setiap peserta perang Badar yang masih hidup mendapat empat ratus dinar, sedang yang masih hidup saat itu sekitar seratus orang, termasuk Ali dan Utsman. Beliaupun berwasiat agar sebagian hartanya diberikan kepada ummahatul muslimin, sehingga Aisyah berdoa: “Semoga Allah memberi kepadanya air dari mata air Salsabil di surga.”
8. Sahabat yang disebutkan berikutnya adalah Saad bin Abi Waqqash, orang pertama yang terkena panah fisabilillah, seorang yang keislamannya sangat dikecam oleh ibunya, namun tetap tabah, dan kukuh pada keislamannya.
9. Said bin Zaid, adik ipar Umar, adalah orang yang dididik oleh seorang ayah yang beroleh bihayah Islam tanpa melalui kitab atau nabi mereka seperti halnya Salman Al Farisi, dan Abu Dzar Al Ghifari. Banyak orang yang lemah berkumpul di mereka untuk memperoleh ketenteraman dan keamanan, serta penghilang rasa lapar, karena Said adalah seorang sahabat yang dermawan dan murah tangan.
10. Nama terakhir yang meraih jaminan surga adalah Abu Ubaidah Ibnul Jarrah, yang akhirnya terpaksa membunuh ayahnya saat Badar, sehingga Allah menurunkan QS Al Mujadilah : 22. Begitupun dalam perang Uhud, Abu Ubaidahlah yang mencabut besi tajam yang menempel pada kedua rahang Rasulullah, dan dengan begitu beliau rela kehilangan giginya. Abu Ubaidah mendapat gelar dari Rasulullah sebagai pemegang amanat , seperti dalam sabda beliau : “Tiap-tiap ada orang pemegang amanat, dan pemegang amanat ini adalah Abu Ubaidah Ibnul Jarrah.”